TIRTO SUWONDO

TIRTO SUWONDO
WARUNG KOPI UNTUK PARA PECINTA BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA

Selasa, 18 November 2008

VLADIMIR PROPP

Cerita Rakyat Damarwulan
Studi Fungsi Pelaku dan Penyebarannya Menurut
Vladimir Propp


Tirto Suwondo

Seperti diketahui bahwa Damarwulan merupakan salah satu genre cerita rakyat (tradisional) dari Jawa yang sangat populer di kalangan masyarakat. Kepopuleran cerita tersebut tidak hanya karena di berbagai perpustakaan banyak bahan tentangnya yang dapat dibaca, tetapi juga karena seringnya grup kesenian, di antaranya ketoprak, mementaskan lakon Damarwulan, sehingga tidak mengherankan jika tipologi tokoh Damarwulan sampai saat ini masih melekat di hati masyarakat. Oleh karena itu, cerita yang sedikit banyak mengungkapkan semacam historical-truth itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan berkesenian masyarakat.
Terlepas dari semua itu, yang jelas cerita Damarwulan telah menjadi dokumen sosio-budaya yang penting. Sebagai dokumen sosio-budaya --yang umumnya berupa naskah atau buku dalam berbagai bahasa (Jawa, Indonesia, Melayu) yang kini tersimpan di berbagai perpustakaan (Surakarta, Yogya-karta, bahkan luar negeri)--, cerita Damarwulan sering menjadi bahan kajian bagi para ahli sastra dan sejarah. Beberapa di antaranya ialah kajian yang dilakukan oleh Baried (l985), Zaimar (1992), dan Prabowa (l995). Dalam kajiannya Baried menyatakan bahwa cerita Damarwulan mengandung nilai kepahlawanan. Jelas bahwa kajiannya itu bertolak dari sisi pragmatis. Sementara itu, dalam kajiannya Zaimar memperlakukan cerita Damarwulan sebagai objek studi untuk menguji-coba teori aktansial-struktural seperti yang dikembangkan oleh Greimas. Namun, kajian Zaimar itu belum lengkap karena hanya mencari tipe-tipe alur. Selain itu, dalam kajiannya Prabowa mengkritik cerita Damarwulan versi Harnaeni dengan mengatakan bahwa tokoh yang ditampilkannya kurang digarap dengan baik. Dengan adanya berbagai-bagai kajian itu terbukti bahwa cerita Damarwulan hingga kini tetap memiliki daya tarik bagi banyak pihak.
Dengan tidak mengesampingkan beberapa kajian yang telah ada, kajian ini dilakukan dengan cara dan tujuan lain. Dalam kajian ini carita Damarwulan dipergunakan sebagai objek studi sastra secara struktural dalam rangka menguji-coba teori yang dikembangkan oleh ahli sastra Rusia, Vladimir Propp. Dalam teorinya, sebagaimana ditulis dalam Morphology of the Folktale (1975; edisi aslinya berbahasa Rusia Morfologija Skazki, 1928), Propp menitikberatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi pelaku (function of dramatic personae), bukan pada pelaku (tokoh) itu sendiri. Yang dikaji adalah tindakan (action) pelaku yang membentuk tipologi struktur.
Cerita Damarwulan yang dijadikan bahan kajian ini adalah cerita (buku) berbahasa Indonesia hasil saduran Harnaeni yang diterbitkan oleh Citra Budaya, Bandung, 1986. Pemilihan bahan kajian tersebut tidak berdasarkan ketentuan apakah secara filologis cerita itu lebih berwibawa atau mendekati aslinya atau tidak, tetapi hanya sekadar salah satu versi tertentu. Hal itu bukan tanpa alasan karena, menurut hemat saya, walaupun suatu cerita terdiri atas berbagai versi, kerangka utama cerita-cerita tersebut tidaklah jauh berbeda. Kalaupun berbeda, hal itu tidak berpengaruh bagi teori struktural model Propp karena teori itu menitikberatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi pelaku. Jadi, versi cerita apa pun dan yang mana pun tidak menjadi problem bagi teori Propp asal masih tergolong ke dalam genre cerita atau dongeng rakyat (folklore, folktale, fairytale).

Selintas tentang Teori Struktural Vladimir Propp
Propp --lengkapnya Vladimir Jakovlevic Propp, lahir 17 April 1895 di St. Petersburg, Jerman-- adalah seorang peneliti sastra yang pada masa 1920-an banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh Formalis Rusia. Meskipun banyak berkenalan dengan kaum formalis, Propp bukanlah seorang formalis (bdk. Eagleton, 1988:115; Jefferson, 1988:54). Dikatakan demikian karena ketika Formalisme Rusia sedang mangalami krisis (menjelang tahun 1930), ia justru memunculkan semacam poetika baru dalam hal pengkajian dan penelitian sastra. Hal itu dapat dibuktikan melalui buku Morphology of the Folktale (1975).
Dapat dikatakan bahwa buku itu merupakan hasil dekonstruksi Propp terhadap teori-teori yang berkembang sebelumnya. Propp (1975:3--18) berpendapat bahwa para peneliti sebelumnya banyak melakukan kesalahan dan sering membuat simpulan yang tumpang tindih. Selain itu, sedikit banyak teori Propp juga mendekonstruksi teori formalis. Kalau Formalisme menekankan perhatiannya pada penyimpangan (deviation) melalui unsur naratif fabula dan suzjet dalam karya-karya individual untuk mencapai nilai kesastraan (literariness) sastra, Propp lebih menitikberatkan perhatiannya pada motif naratif yang terpenting, yaitu tindakan atau perbuatan (action), yang selanjutnya disebut fungsi (function).
Propp menyadari bahwa suatu cerita pada dasarnya memiliki konstruksi. Konstruksi itu terdiri atas motif-motif yang terbagi dalam tiga unsur, yaitu pelaku, perbuatan, dan penderita (lihat juga: Junus, 1983:63). Ia melihat bahwa tiga unsur itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur yang tetap dan unsur yang berubah. Unsur yang tetap adalah perbuatan, sedangkan unsur yang berubah adalah pelaku dan penderita. Bagi Propp, yang terpenting adalah unsur yang tetap. Sebagai contoh, yang terpenting di dalam konstruksi "raksasa menculik seorang gadis" adalah perbuatan atau tindakannya, yaitu "menculik", karena tindakan itu dapat membentuk satu fungsi tertentu dalam cerita. Seandainya tindakan itu diganti dengan tindakan lain, fungsinya akan berubah. Tidak demikian jika yang diganti adalah unsur pelaku atau penderita. Penggantian unsur pelaku dan penderita tidak mempengaruhi fungsi perbuatan dalam suatu konstruksi tertentu. Dilihat dari contoh tersebut, jelas bahwa teori Propp diilhami oleh strukturalisme dalam ilmu bahasa (linguistik) sebagaimana dikembangkan oleh Saussure (bdk. Selden, 1991:59).
Berdasarkan penelitiannya terhadap seratus dongeng Rusia, yang disebutnya fairytale, Propp (1975:21--24) akhirnya memperoleh simpulan (1) anasir yang mantap dan tidak berubah dalam sebuah dongeng bukanlah motif atau pelaku, melainkan fungsi, lepas dari siapa pelaku yang menduduki fungsi itu, (2) jumlah fungsi dalam dongeng terbatas, (3) urutan fungsi dalam dongeng selalu sama, dan (4) dari segi struktur semua dongeng hanya mewakili satu tipe (lihat juga: Teeuw, 1984:291; Scholes, 1977:63). Sehubungan dengan simpulan (2), Propp menyatakan bahwa paling banyak sebuah dongeng terdiri atas 31 fungsi. Namun, ia juga menyatakan bahwa setiap dongeng tidak selalu mengandung semua fungsi itu karena banyak dongeng yang ternyata hanya mengandung beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itulah, berapa pun jumlahnya, yang membentuk kerangka pokok cerita.
Tiga puluh satu fungsi yang dimaksudkan oleh Propp adalah seperti di bawah ini. Untuk mempermudah pembuatan skema, Propp memberi tanda atau lambang khusus pada setiap fungsi (barangkali, kalau kita mengganti lambang itu sesuai dengan keinginan kita, tentu juga tidak ada salahnya). Adapun fungsi-fungsi dan lambangnya sebagai berikut.

FUNGSI LAMBANG

1. Absentation 'ketiadaan' b
2. Interdiction 'larangan' ¡
3. Violation 'pelanggaran' d
4. Reconnaissance 'pengintaian' e
5. Delivery 'penyampaian (informasi)' V
6. Fraud 'penipuan (tipu daya)' h
7. Complicity 'keterlibatan' q
8. Villainy 'kejahatan' A
8a. Lack 'kekurangan (kebutuhan)' a
9. Mediation, the connective incident
'perantaraan, peristiwa penghubung' B
10. Begining counteraction 'penetralan
(tindakan) dimulai' C
11. Departure 'keberangkatan (kepergian)' ­
12. The first function of the donor
'fungsi pertama donor (pemberi)' D
13. The hero's reaction 'reaksi pahlawan' E
14. Provition or receipt of a magical agent
'penerimaan unsur magis (alat sakti)' F
15. Spatial translocation 'perpindahan (tempat)' G
16. Struggle 'berjuang, bertarung' H
17. Marking 'penandaan' J
18. Victory 'kemenangan' I
19. The initial misfortune or lack is liquidated
'kekurangan (kebutuhan) terpenuhi' K
20. Return 'kepulangan (kembali)' ¯
21. Pursuit, chase 'pengejaran, penyelidikan' Pr
22. Rescue 'penyelamatan' Rs
23. Unrecognised arrival 'datang tak terkenali' O
24. Unfounded claims 'tuntutan yang tak mendasar' L
25. The difficult task 'tugas sulit (berat)' M
26. Solution 'penyelesaian (tugas)' N
27. Recognition '(pahlawan) dikenali' Q
28. Exposure 'penyingkapan (tabir)' Ex
29. Transfiguration 'penjelmaan' T
30. Punishment 'hukuman (bagi penjahat)' U
31. Wedding 'perkawinan (dan naik tahta)' W

Catatan:
Fungsi-fungsi dan lambang-lambang yang dicantumkan ini hanya terbatas pada yang pokok saja; lebih lengkapnya lihat buku Propp (1975:26--65).

Menurut Propp (1975:79--80), jumlah tiga puluh satu fungsi itu dapat didistribusikan ke dalam lingkaran atau lingkungan tindakan (speres of action) tertentu. Ada tujuh lingkungan tindakan yang dapat dimasuki oleh fungsi-fungsi yang tergabung secara logis, yaitu (1) villain 'lingkungan aksi penjahat', (2) donor, provider 'lingkungan aksi donor, pembekal', (3) helper 'lingkungan aksi pembantu', (4) the princess and her father 'lingkungan aksi seorang putri dan ayahnya', (5) dispatcher 'lingkungan aksi perantara (pemberangkat)', (6) hero 'lingkungan aksi pahlawan', dan (7) false hero 'lingkungan aksi pahlawan palsu' (lihat juga: Hawkes, 1978:91; Scholes, 1977:104; Schleifer, 1987:96). Melalui tujuh lingkungan tindakan (aksi) itulah frekuensi kemunculan pelaku dapat dideteksi dan cara bagaimana watak pelaku diperkenalkan dapat diketahui.
Demikian selintas tentang teori (naratologi) struktural(is) versi Vladimir Propp. Kendati dalam perkembangan selanjutnya Propp banyak dikecam oleh peneliti lain, di antaranya oleh Guipen dari Belanda (Teeuw, 1984:293), sebagian dari konsep teorinya tetap menjadi pegangan mereka dalam menemukan cara analisis sastra yang baru. Harus diakui bahwa ternyata para ahli seperti Bremond, Greimas, Levi-Strauss, Souriau, Todorov, bahkan juga Roland Barthes, banyak memanfaatkan konsep yang telah dihasilkan Propp. Namun, dalam perkembangan terakhir, Propp tidak konsekuen pada prinsipnya sendiri. Ia semula menolak adanya pendekatan historik, tetapi kemudian ia kembali ke orientasi historik. Hal itu dapat dibuktikan melalui bukunya Theory and History of Folklore (1984) yang merupakan kumpulan karangan menjelang akhir hayatnya (1970).

Pembahasan
1. Ringkasan Cerita Damarwulan
Di kerajaan Majapahit bertahtalah seorang ratu yang sangat cantik bernama Kencanawungu. Kendati sudah menduduki tahta kerajaan, Kencanawungu masih tetap belum bersuami. Berkat kecantikannya itu datanglah Minakjingga, raja raksasa dari Blambangan yang terkenal sakti dan kejam, bermaksud akan memperistri Kencanawungu. Namun, Kencanawungu menolak lamaran Minakjingga karena ia tidak ingin bersuamikan raja raksasa yang kejam. Karena Minakjingga memaksa agar pinangannya diterima, timbullah niat Kencanawungu untuk melenyapkan Minakjingga. Itulah sebabnya, Kencanawungu mengadakan sayembara. Siapa saja yang dapat membunuh Minakjingga akan mendapat hadiah: jika perempuan akan dipersaudara, jika laki-laki akan dipersuami.
Rupanya sial bagi Kencanawungu. Sudah hampir sebulan lamanya, sesuai dengan janjinya kepada Minakjingga untuk memberikan jawaban pasti, belum ada seorang pun yang berhasil membunuh Minakjingga. Melihat keadaan ini Kencanawungu sangat sedih, dan ia kemudian berdoa dan bersamadi. Tidak lama kemudian Kencanawungu memperoleh wangsit bahwa yang dapat mengalahkan Minakjingga adalah Damarwulan. Lalu datanglah Damarwulan bersama Patih Logender karena memang ia keponakannya; dan setelah mendapatkan izin, Damarwulan segera pergi ke Blambangan untuk melaksanakan tugas membunuh Minakjingga. Namun, ketika Damarwulan berperang melawan Minakjingga, sayang sekali Damarwulan kalah. Untunglah ada Dewi Suhita dan Dewi Puyengan, keduanya istri Minakjingga, datang menawarkan bantuan. Kedua dewi itu akan mencuri senjata wesi kuning milik suaminya untuk diberikan kepada Damarwulan. Akan tetapi, mereka terikat oleh janji bahwa setelah perang usai Damarwulan harus bersedia menjadi suami kedua dewi itu. Atas tawaran tersebut Damarwulan pun berkata akan memenuhi janjinya.
Berkat senjata itu Damarwulan akhirnya menang. Minakjingga tewas. Lalu kepala Minakjingga dipenggal oleh Damarwulan dan akan dibawa ke Majapahit sebagai bukti. Namun, ketika Damarwulan sampai di tengah perjalanan, barang bukti berupa kepala Minakjingga itu dirampas oleh kedua putra Patih Logender, Layang Seta dan Layang Kumitir. Bahkan Damarwulan dipukul hingga pingsan dan tubuhnya kemudian dibuang ke jurang. Untunglah Damarwulan selamat, dan berkat bantuan Anjasmara, Suhita, dan Puyengan, akhirnya ia berhasil menghadap Kencanawungu.
Di hadapan Kencanawungu terjadilah suatu ketegangan. Di satu pihak, dengan bukti kepala Minakjingga, Layang Seta dan Layang Kumitir menuntut hadiah dari Kencanawungu. Namun, di pihak lain, dengan saksi Suhita dan Puyengan, Damarwulan juga melaporkan bahwa sebenarnya yang membunuh Minakjingga adalah dirinya. Di sinilah Kencanawungu bingung. Lalu Kencanawungu memerintahkan agar Layang Seta dan Layang Kumitir berperang melawan Damarwulan. Siapa yang menang, dialah yang berhak menjadi suami Kencanawungu. Akhirnya, dalam peperangan itu, Damarwulan menang dengan mudah. Layang Seta dan Layang Kumitir juga telah mengakui kecurangannya. Tidak lama kemudian Damarwulan menikah dengan empat wanita sekaligus (Kencanawungu, Anjasmara, Suhita, dan Puyengan). Akhir kisah, Damarwulan naik tahta dan menjadi raja Majapahit.

2. Fungsi Pelaku, Skema, dan Pola Cerita
Dalam analisis ini, khusus mengenai fungsi-fungsi pelaku, yang disajikan adalah definisi pokoknya saja yang disertai lambang dan ringkasan isi cerita. Sajian ringkasan isi cerita dimaksudkan sebagai penjelas fungsi. Adapun hasil analisis fungsi dalam cerita Damarwulan tampak sebagai berikut.

(0) Situasi Awal (lambang: µ )
Yang menjadi situasi awal cerita Damarwulan adalah deskripsi adanya kerajaan Majapahit yang diperintah oleh seorang ratu yang cantik bernama Ratu Kencanawungu. Kecantikan seorang ratu inilah yang menjadi penyulut awal pergerakan cerita sehingga muncul fungsi-fungsi berikut.

(1) Kejahatan (lambang: A)
Diceritakan bahwa Kencanawungu adalah seorang ratu yang sangat cantik. Kecantikannya termashyur di mana-mana sehingga menarik minat para raja untuk mempersuntingnya. Hal ini tidak luput dari perhatian Minakjingga, raja raksasa yang kejam dari Blambangan. Sebenarnya, Kencanawungu belum berniat bersuami, tetapi Minakjingga memaksanya. Bahkan Minakjingga mengancam, jika Kencanawungu menolak lamarannya, kerajaan Majapahit akan dihancurkan. Itulah sebabnya, Kencanawungu minta waktu sebulan untuk memikirkannya. Dalam hal ini, fungsi kejahatan (villainy) yang dimaksudkan ialah Minakjingga menuntut supaya Kencanawungu bersedia diperistri. Kalau mengikuti klasifikasi Propp, fungsi ini masuk ke dalam kelompok kejahatan dengan lambang (A8): penjahat menuntut agar sesuatu diberikan.

(2) Kekurangan, kebutuhan (lambang: a)
Kencanawungu yang tidak bersedia diperistri oleh raja yang kejam menginginkan agar Minakjingga lenyap dari bumi ini. Oleh karena itu, dalam masa penantian satu bulan itu, Kencanawungu membuka sayembara dengan maksud membunuh Minakjingga. Jadi, dalam fungsi ini Kencanawungu membutuhkan seseorang untuk memenuhi keinginan atau kekurangannya. Dalam klasifikasi Propp, fungsi kekurangan atau kebutuhan (lack) ini masuk ke dalam kelompok tertentu dengan lambang (a6).

(3) Perantaraan, peristiwa penghubung (lambang: B)
Waktu satu bulan sudah hampir habis. Namun, Minakjingga belum terkalahkan. Banyak sudah tokoh yang mati di tangan Minakjingga. Hal ini membuat Kencanawungu gelisah. Karena itu, Kencanawungu kemudian bersamadi memohon kepada dewa agar diberi petunjuk. Dalam samadinya ia memperoleh wangsit (semacam suara gaib) bahwa yang dapat mengalahkan Minakjingga adalah seorang pemuda biasa bernama Damarwulan. Dalam hal ini, wangsit berfungsi sebagai perantara (mediation), peristiwa penghubung (onncective incident), karena jika tidak ada wangsit itu tamatlah rimayat Kencanawungu. Dalam klasifikasi Propp, wangsit dapat dikategorikan sebagai fungsi dengan lambang (B1): suatu pertolongan datang sehingga pelaku mengutus seseorang.

(4) Penetralan (tindakan) dimulai (lambang: C)
Berkat wangsit yang diperoleh, Kencanawungu kemudian mengutus Patih Logender untuk mencari orang yang bernama Damarwulan. Oleh karena Damarwulan adalah kemenakannya sendiri, yang saat itu menjadi perawat kuda miliknya, dengan mudah Patih Logender menghadapkan Damarwulan pada Kencanawungu. Kedatangan Damarwulan membuat hati Kencanawungu lega. Oleh karena itu, ketegangan Kencanawungu menjadi netral karena sebagian dari harapannya terpenuhi. Langkah selanjutnya Kencanawungu berharap agar Damarwulan segera berangkat melaksanakan tugasnya.

(5) Keberangkatan, kepergian (lambang: ­ )
Setelah mendapat izin, baik dari Kencanawungu maupun dari Patih Logender, dengan dukungan kekasihnya Anjasmara, Damarwulan berangkat (departure) dari Majapahit menuju ke Blambangan dengan maksud membunuh Minakjingga. Dengan hati yang tegar ia ingin segera dapat menyelesaikan tugasnya.

(6) Fungsi pertama donor (lambang: D)
Dalam fungsi ini pahlawan diuji. Karena itu, dalam peperangannya melawan Minakjingga, Damarwulan kalah. Ia tidak mampu menandingi kesaktian Minakjingga karena Minakjingga memiliki senjata kekebalan berupa gada wesi kuning. Jadi, jika mengikuti klasifikasi Propp, ujian bagi Damarwulan dapat dimasukkan ke dalam kategori tertentu dengan lambang (D8): kekuatan makhluk yang ganas mencoba membunuh pahlawan.

(7) Reaksi pahlawan (lambang: E)
Untunglah datang pertolongan dari Dewi Suhita dan Dewi Puyengan sehingga Damarwulan selamat. Kedua dewi itu membujuk suaminya agar tidak membunuh lawan yang sudah tidak berdaya. Namun, sebenarnya rayuan kedua dewi itu hanyalah tipuan karena mereka ingin agar segera dapat keluar dari cengkeraman suaminya yang bengis. Karena itu, secara diam-diam kedua dewi itu memberi pertolongan kepada Damarwulan. Akan tetapi, kedua dewi itu minta agar kelak Damarwulan bersedia memperistrinya. Karena tidak ada pilihan lain, tanpa pikir panjang Damarwulan menyetujui permintaan mereka. Persetujuan Damarwulan itulah yang dapat ditafsirkan sebagai fungsi reaksi pahlawan (the hero's reaction), yang oleh Propp dikategorikan ke dalam kelompok tertentu dengan lambang (E9): pahlawan setuju untuk membalas budi.

(8) Penerimaan unsur magis (alat sakti) (lambang: F)
Karena telah menyetujui permintaan Dewi Suhita dan Dewi Puyengan, akhirnya Damarwulan menerima senjata kesaktian gada wesi kuning milik Minakjingga yang dicuri oleh kedua istrinya. Dengan senjata itu Damarwulan bersemangat kembali dan ingin segera melenyapkan Minakjingga.

(9) Pertarungan, perjuangan (lambang: H)
Suatu pagi, di arena kerajaan, setelah menerima senjata, Damarwulan menantang Minakjingga untuk bertarung lagi. Mendengar tantangan itu Minakjingga geram dan dengan sekuat tenaga ia mengerahkan kesaktiannya. Namun, sayang sekali dalam peperangan itu Minakjingga sudah tidak bersenjata karena senjatanya telah berada di tangan Damarwulan.

(10) Kemenangan (lambang: I)
Peperangan dimenangkan oleh Damarwulan. Minakjingga akhirnya tewas di tangan Damarwulan. Setelah tewas, kepala Minakjingga dipenggal. Penggalan kepala itu akan dibawa oleh Damarwulan ke Majapahit sebagai barang bukti.

(11) Kekurangan (kebutuhan) terpenuhi (lambang: K)
Kabar tentang kemenangan Damarwulan akhirnya cepat terdengar oleh Kencanawungu. Ini berarti bahwa kebutuhan (keinginan) Kencanawungu akan kematian Minakjingga terpenuhi. Bahkan, kabar tersebut didengar pula oleh kedua putra Patih Logender, yaitu Layang Seta dan Layang Kumitir, sehingga fungsi ini berkaitan erat dengan fungsi (13) di bawah.

(12) Kepulangan (lambang: ¯ )
Setelah menang dan dapat membunuh Minakjingga, Damarwulan lalu segera pulang ke Majapahit dengan membawa barang bukti berupa penggalan kepala Minakjingga.

(13) Pengejaran (lambang: Pr)
Ketika pulang dari Blambangan ke Majapahit, di tengah perjalanan Damarwulan dihadang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua putra Patih Logender itu memperdaya Damarwulan. Barang bukti berupa kepala Minakjingga dirampas dan kepala (tengkuk) Damarwulan dipukul. Dalam keadaan pingsan --kedua orang itu mengira kalau Damarwulan telah tewas-- Damarwulan dibuang ke jurang.

(14) Penyelamatan (lambang: Rs)
Kendati dipukul dan dilemparkan ke jurang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir, Damarwulan masih bernasib baik. Setelah siuman ia meneruskan perjalanan ke Majapahit. Bukan suatu kebetulan, saat itu Suhita dan Puyengan melarikan diri dari Blambangan dan dapat berjumpa dengan Damarwulan di perjalanan. Selain itu, Anjasmara yang mendengar kabar buruk Damarwulan --kabar ini didengar dari kedua kakaknya, Layang Seta dan Layang Kumitir, ketika melapor kepada ayahnya mengenai keberhasilannya membunuh Minakjingga-- langsung menyusul ke Blambangan. Namun, belum sampai ke Blambangan, Anjasmara berjumpa dengan Damarwulan yang saat itu bersama-sama dengan Suhita dan Puyengan. Setelah mengetahui persoalan sebenarnya, mereka berempat lalu segera ke Majapahit untuk menghadap Ratu Kencanawungu. Dalam hal ini, kalau mengikuti klasifikasi Propp, fungsi penyelamatan (rescue) dapat dikategorikan ke dalam kelompok tertentu dengan lambang (Rs9): pahlawan terselamatkan oleh percobaan pembunuhan.

(15) Tuntutan yang tidak mendasar (lambang: L)
Dengan barang bukti berupa kepala Minakjingga, Layang Seta dan Layang Kumitir mencoba menuntut janji (hadiah, penghargaan) dari Kencanawungu. Akan tetapi, Kencanawungu tidak langsung percaya karena menurut wangsit tidak demikian. Dalam wangsit dinyatakan bahwa yang mampu membunuh Minakjingga hanyalah Damarwulan. Bukan suatu kebetulan pula, saat itu Damarwulan bersama Anjasmara, Suhita, dan Puyengan datang menghadap dan melaporkan jika yang berhasil membunuh Minakjingga adalah Damarwulan. Jadi, dikatakan oleh mereka bahwa bukti yang dibawa oleh Layang Seta dan Layang Kumitir adalah bukti yang dirampas dari tangan Damarwulan. Di sinilah Kencanawungu bingung karena sebagai seorang ratu harus bertindak bijaksana dan adil.

(16) Tugas yang sulit (berat) (lambang: M)
Di hadapan Kencanawungu, Damarwulan menghadapi masalah yang sulit karena ia tidak berhasil membawa barang bukti. Yang membawa barang bukti justru Layang Seta dan Layang Kumitir. Itulah sebabnya, di depan Kencanawungu terjadi perdebatan sengit. Menghadapi kenyataan ini, akhirnya Kencanawungu bertindak adil. Ia tidak segera mempercayai mereka, baik Damarwulan maupun Layang Seta dan Layang Kumitir. Ia hanya percaya bahwa yang sakti dan tangguhlah yang mampu membunuh Minakjingga. Oleh sebab itu, Kencanawungu minta agar Damarwulan perang (adu kekuatan) melawan Layang Seta dan Layang Kumitir. Siapa yang menang, dialah yang berhak menerima hadiah dari Sang Ratu.

(17) Penyelesaian tugas (lambang: N)
Dalam menghadapi tugas berat itu, Damarwulan akhirnya dengan mudah dapat mengalahkan Layang Seta dan Layang Kumitir. Dengan kemenangan Damarwulan, terbukti bahwa yang telah membunuh Minakjingga adalah Damarwulan.

(18) Penyingkapan (tabir) kepalsuan (lambang: Ex)
Setelah Layang Seta dan Layang Kumitir dikalahkan oleh Damarwulan, dengan terus terang mereka mengakui telah bertindak curang. Patih Logender, ayah mereka, yang semula bersikeras dan berpihak kepada kedua putranya, merasa malu dan akhirnya minta maaf.

(19) Perkawinan (dan naik tahta) (lambang: W)
Setelah semua masalah dapat diselesaikan, Damarwulan kawin dengan empat wanita sekaligus, yaitu Kencanawungu, Anjasmara, Suhita, dan Puyengan. Tidak lama kemudian ia naik tahta dan menjadi raja Majapahit. Menurut klasifikasi Propp, hal demikian dikategorikan ke dalam kelompok fungsi dengan lambang (W:): perkawinan pahlawan yang dilanjutkan dengan naik tahta. Dengan demikian, berakhirlah sudah cerita tentang Damarwulan dengan happy ending. Situasi akhir ini oleh Propp diberi lambang (X).
Jika cerita tentang Damarwulan disusun dalam bentuk skema, kerangka cerita yang membentuk strukturnya akan tampak seperti berikut.

( µ ) A8a6B1C ­ D8E9FH-IK ¯ PrRs9LM-NExW: (X)

Setelah unsur-unsur penting serta unsur-unsur penjelasnya ditunjukkan (lihat fungsi-fungsi pelaku di atas), dapatlah ditemukan pola-pola tertentu dalam cerita Damarwulan. Menurut Propp (1975:92), satu cerita (komponen) tertentu dapat ditandai oleh satu perkembangan atau pergerakan yang dimulai dari kejahatan atau kekurangan (kebutuhan) dan diakhiri dengan penyelesaian atau terpenuhinya kekurangan (kebutuhan) setelah melalui fungsi-fungsi perantaraan. Oleh karena itu, dengan mencermati fungsi-fungsi pelaku seperti telah disebutkan di atas, secara keseluruhan (tale as a whole) cerita Damarwulan dapat dipolakan seperti berikut.

I. A8--------------------K
II. a6....C K...................W:
III. Pr---------Ex

Keterangan:
I. A8--K adalah munculnya kejahatan sampai dengan berakhirnya kejahatan karena Minakjingga berhasil dibunuh; ini berarti bahwa kebutuhan atau kekurangan (keinginan) Kencanawungu terpenuhi.
II. a6...C adalah munculnya keinginan (kebutuhan) Kencanawungu akan seseorang (yang dapat membantu kesulitannya) sampai ditemukannya Damarwulan.
K...W: adalah pola yang masih berkaitan dengan a6...C karena Kencanawungu terikat oleh janji ketika mengadakan sayembara: setelah Damarwulan berhasil membunuh Minakjingga, akhirnya Kencanawungu benar-benar memenuhi janjinya, yaitu kawin.
III. Pr--Ex adalah munculnya kejahatan Layang Seta dan Layang Kumitir sampai dengan terbukanya tabir kecurangan mereka.

3. Distribusi Fungsi di Kalangan Pelaku
Menurut Propp (1975:79--80), tiga puluh satu fungsi yang menjadi kerangka pokok cerita atau dongeng rakyat itu dapat didistribusikan ke dalam tujuh lingkaran tindakan (speres of action). Jadi, setiap lingkaran (lingkungan) tindakan dapat mencakupi satu atau beberapa fungsi. Adapun tujuh lingkaran tindakan dalam cerita Damarwulan adalah sebagai berikut.

(1) A8 dan Pr adalah lingkungan aksi penjahat.
(2) D8 dan F adalah lingkungan aksi donor (pembekal).
(3) E9 dan Rs9 adalah lingkungan aksi pembantu.
(4) a6, K, M, dan W: adalah lingkungan aksi seorang putri
(Kencanawungu) dan yang diinginkannya.
(5) B1 adalah lingkungan aksi perantara.
(6) C , D8, H, I, ­, M, N, dan W: adalah lingkungan aksi pahlawan.
(7) Pr, L, M, dan Ex adalah lingkungan aksi pahlawan palsu.

4. Cara-Cara Pengenalan Pelaku
Berdasarkan pengamatan secara cermat terhadap cerita Damarwulan diperoleh beberapa model atau cara pengenalan pelaku seperti di bawah ini. Pelaku yang dimaksudkan adalah penjahat, pembantu, perantara, pehlawan, pahlawan palsu, dan sang putri. Dalam cerita Damarwulan, masing-masing penjahat, baik Minakjingga maupun Layang Seta dan Layang Kumitir beserta tindakan kejahatan mereka, diperkenalkan sekali dalam perjalanan cerita (dalam arti yang fungsional dalam struktur). Minakjingga muncul ketika akan memperistri Kencanawungu dan ia mengancam akan menghancurkan Majapahit jika Kencanawungu tidak menerima pinangannya (A8). Sementara itu, Layang Seta dan Layang Kumitir muncul dengan niat jahatnya ketika mendengar kabar tentang keberhasilan Damarwulan membunuh Minakjingga (Pr).
Dalam cerita ini pembantu dimunculkan bukan sebagai suatu kebetulan. Dewi Suhita dan Dewi Puyengan bersedia membantu Damarwulan ketika akan dibunuh oleh Minakjingga karena selama menjadi istri Minakjingga mereka merasa seolah "dipenjara". Karena tidak tahan menjadi istri seorang raja yang kejam, kedua dewi itu ingin segera membebaskan diri, yaitu dengan cara membantu mencuri senjata milik suaminya untuk Damarwulan. Namun, mereka mengikat janji, dan Damarwulan pun bersedia memenuhi janji itu (E9). Di lain pihak, unsur bantuan dari tiga putri (Suhita, Puyengan, dan Anjasmara) bagi Damarwulan ketika berdebat mengenai saksi dan bukti di hadapan Kencanawungu, juga bukan merupakan kebetulan karena Suhita dan Puyengan akan segera menuntut janji, sedangkan Anjasmara memang sebelumnya telah jatuh cinta kepada Damarwulan (Rs9). Sementara itu, unsur pembantu sakti, berupa senjata gada wesi kuning, diperkenalkan sebagai suatu pemberian (F).
Dalam cerita Damarwulan perantara diperkenalkan sebagai penghubung fungsi-fungsi pelaku yang utama. Perantara yang berupa wangsit dimunculkan bukan juga sebagai deux ex machina. Dapat dikatakan bahwa perantara merupakan hal yang sangat penting karena tanpa adanya wangsit (B1) nasib Kencanawungu (dan Damarwulan) tidak akan sebaik seperti dalam cerita ini. Perantara (wangsit) diperkenalkan dalam perjalanan cerita sesudah munculnya sang putri Kencanawungu (a6) dan sebelum munculnya sang pahlawan Damarwulan (C). Sementara itu, pahlawan palsu diperkenalkan dalam situasi kejahatan kedua (Pr), yaitu ketika Layang Seta dan Layang Kumitir memperdaya Damarwulan di perjalanan. Sesungguhnya, pahlawan dan pahlawan palsu itu telah diperkenalkan di bagian-bagian awal cerita, tetapi sayang pengenalan itu tidak fungsional. Kendati demikian, jika dihubungkan dengan tindakan (aksi) mereka selanjutnya, pengenalan pada bagian awal itu merupakan suatu rangsangan tersendiri. Sebagai contoh, pengenalan Damarwulan (berupa deskripsi kepergiannya dari padepokan Begawan Tunggulmanik) pada bagian awal merupakan rangsangan atau penghubung tindakannya di Majapahit. Demikian juga dengan pahlawan palsu Layang Seta dan Layang Kumitir. Pengenalan watak jahat mereka pada bagian awal, yaitu sikapnya yang selalu menghina Damarwulan, merupakan rangsangan bagi tindakan kejahatannya memperdaya Damarwulan (Pr). Demikianlah selintas tentang cara pengenalan pelaku dan beberapa unsur penghubung peristiwa dalam cerita Damarwulan.

Simpulan
Dari seluruh pembahasan di depan, akhirnya dapat diambil beberapa simpulan dan catatan sebagai berikut. Ditinjau dari sisi fungsi-fungsi pelaku, cerita Damarwulan dibentuk oleh kerangka cerita yang terdiri atas sembilan belas fungsi. Jumlah sembilan belas fungsi itu sendiri terbentuk dari satu pola keinginan (kekurangan, kebutuhan) dan dua pola kejahatan. Oleh karena cerita ini diakhiri dengan happy ending, padahal di dalamnya terdapat dua pola kejahatan, dapat ditafsirkan bahwa cerita ini mengandung tema moral. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan akan menerima ganjaran sepantasnya dan siapa yang berbuat kejahatan akan menerima hukuman yang setimpal.
Dilihat dari distribusi fungsi di kalangan pelaku, dapat dinyatakan bahwa tokoh yang menduduki tokoh utama adalah Damarwulan dan Kencanawungu. Selain itu, semua pelaku dalam cerita diperkenalkan secara wajar dan logis, dalam arti tidak ada unsur kebetulan (ndilalah) dan tidak ada unsur deux ex machina 'dewa yang muncul dari mesin'. Padahal, unsur-unsur semacam itu biasanya banyak muncul dalam cerita atau dongeng-dongeng rakyat.
Akhirnya, perlu diberikan catatan bahwa analisis cerita Damarwulan berdasarkan teori struktural ala Propp ini barulah merupakan suatu uji-coba teori Barat terhadap cerita rakyat Indonesia (Jawa) yang hasilnya pasti masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, uji-coba semacam ini perlu dilakukan terus-menerus sehingga, jika mungkin, akan dapat ditemukan ciri khusus atau keunikan tersendiri dalam cerita-cerita rakyat Nusantara (Indonesia).

Tidak ada komentar: