TIRTO SUWONDO

TIRTO SUWONDO
WARUNG KOPI UNTUK PARA PECINTA BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA

Jumat, 02 Agustus 2013

Tirto Suwondo | Hari Puisi Indonesia dan Potret Produksi Buku Sastra (di) Yogyakarta

Orasi Budaya Kepala Balai Bahasa Tirto Suwondo ini disampaikan pada Perayaan Hari Puisi Indonesia dan Peluncuran Buku Puisi OBITUARI RINDU (S. Arimba) dan TANGAN YANG LAIN (Tia Setiadi) pada Jumat, 26 Juli 2013 pukul 15.00, di Perpustakaan gelaranibuku, Indonesia Buku, Jalan Patehan Wetan No 3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.
orasi budaya
Hari Puisi Indonesia dan Potret Produksi Buku Sastra (di) Yogyakarta
Selamat sore, salam sejahtera, dan salam sastra,
Karena ini masih dalam bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, secara pribadi saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi hadirin yang benar-benar sedang menjalankannya. Mudah-mudahan ibadahnya diterima oleh Allah Swt dan kelak senantiasa mendapatkan limpahan berkah yang berlipat ganda dari-Nya. Amiiinn.
Beberapa waktu lalu, ketika sahabat saya, penyair Suharmono Arimba, bersama sastrawan Mahwi Air Tawar, datang ke kantor dan mengungkapkan keinginannya mengundang saya untuk memberikan ORASI BUDAYA pada acara ini, terus terang saya terkejut. Sebab, saya bukanlah sastrawan, seniman, apalagi budayawan. Saya hanyalah seseorang yang kebetulan bekerja di sebuah instansi yang bergerak di bidang bahasa dan sastra, Balai Bahasa Provinsi DIY.
Karena itu, sangat tidak pada tempatnya kalau saya diminta untuk memberikan ORASI BUDAYA. Tetapi, ketika hal itu saya ungkapkan kepada mereka, keduanya mengatakan, saya boleh bicara apa saja. Saya boleh sekedar memberikan tausyiah ringan, sekadar untuk menggenapi acara Perayaan HARI PUISI INDONESIA. Untuk itu, permintaan itu saya sanggupi, walaupun dengan berat hati.
Baiklah. Karena pada kesempatan ini saya boleh bicara apa saja, saya hanya ingin memberikan obrolan ringan mengenai beberapa hal. Di antara obrolan itu berkaitan dengan pengalaman saya mengikuti dan melihat, walau hanya dengan kacamata yang sempit dan terbatas, mengenai kondisi dan atau kecenderungan kesastraan, khususnya mengenai produksi buku-buku sastra Indonesia di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir.
Kalau di dalam konteks ini saya menyinggung mengenai sastra Indonesia di Yogyakarta, hal ini hendaknya jangan diartikan secara lain. Karena, kalau dipersoalkan, istilah ini dapat mengundang perdebatan yang tak berkesudahan. Lagi pula, bagi kami, hal itu telah dimuati dengan niatan dan tujuan tertentu. Tentu saja, tujuan itu tujuan yang baik.
Sebelum saya memaparkan beberapa catatan mengenai kondisi kesastraan di Yogyakarta, pertama-tama saya hendak mengungkapkan satu hal, yakni tentang sebutan  HARI PUISI INDONESIA yang dirayakan pada hari ini (26 Juli). Saya tidak tahu persis, kira-kira kapan dan di mana HARI PUISI INDONESIA itu ditetapkan atau dimaklumatkan. Saya juga tidak tahu siapa atau kelompok (penyair) mana yang telah menetapkannya.
Hal ini, misalnya, berbeda dengan HARI SASTRA INDONESIA yang telah dicetuskan oleh Taufiq Ismail dkk di Bukittinggi (24 Maret 2013). Dan, penetapan HARI SASTRA INDONESIA itu dikaitkan dengan tanggal kelahiran sastrawan besar Abdoel Moeis (3 Juli 1883). Sementara, penetapan HARI PUISI INDONESIA konon dikaitkan dengan kelahiran penyair besar Chairil Anwar (26 Juli 1922). Padahal, kita juga tahu, tanggal 28 April, yakni hari wafatnya penyair Chairil Anwar (1949), sudah sering kita rayakan sebagai HARI CHAIRIL ANWAR.
Setiap orang, siapa pun, termasuk seniman dan sastrawan, memang memiliki kemerdekaan penuh untuk berbuat apa saja, asalkan tidak menimbulkan kerugian pihak lain. Di sini tentu termasuk hak dan kemerdekaan untuk menentukan HARI TERTENTU, termasuk HARI SASTRA, HARI PUISI, HARI CHAIRIL ANWAR, dll.
Hanya saja, kadang-kadang kita ini suka berbuat latah. Kalau misalnya pada hari ini kita bermaklumat mengenai HARI PUISI INDONESIA, mungkin besok kita bisa juga bermaklumat mengenai HARI CERPEN INDONESIA, HARI NOVEL INDONESIA, HARI DRAMA INDONESIA, HARI UMAR KAYAM, dan lain-lain.
Bahkan, suatu saat, kita juga bisa bermaklumat mengenai HARI LEO, HARI HARMONO, atau HARI MAHWI AIR TAWAR, dan seterusnya. Kalau demikian halnya, betapa kita begitu mudah menyatakan suatu hal yang –tak jarang– kemudian berubah hanya menjadi sensasi. Tetapi, baiklah, kita tidak perlu risau, tidak perlu galau. Penetapan hari bersejarah, termasuk hari yang telah dimaklumatkan itu, pada hakikatnya sah-sah saja dan tidak ada yang melarang atau memberikan sanksi.
Kira-kira dua bulan lalu, ketika hendak memberikan ceramah proses kreatif di depan 120 mahasiswa STIKIP Saraswati  Denpasar di Balai Bahasa Provinsi DIY, novelis Ahmad Tohari, orang tua imajiner si Ronggeng Srintil  itu, mampir ke ruang kerja saya. Setelah ngobrol ngalor ngidul tidak karuan, bukan suatu kebetulan, saya bertanya tentang HARI SASTRA INDONESIA yang telah dicetuskan Taufiq Ismail dkk beberapa waktu lalu.
Mungkin, dengan sedikit risau, karena beliau ikut di Bukittinggi waktu itu, beliau buru-buru memotong pertanyaan saya. “Sudahlah, Mas, yang penting sekarang, bagaimana kita harus berbuat. Semua hari, termasuk hari-hari yang telah dimaklumatkan sebagai HARI BERSEJARAH itu, semua dilakukan dengan niat baik. Wajiblah bagi kita untuk menghormati niat baik mereka. Sebagai sesama warga sastra Indonesia, kita perlu berpikir, bertindak, dan mengisi hari-hari itu agar kehidupan sastra dan kehidupan kita bisa lebih eksis lagi. Itulah yang lebih penting.”
Itulah tadi pernyataan singkat Ahmad Tohari. Memang benar, yang lebih penting ialah bagaimana kita harus berbuat. Tentu saja, termasuk apa yang kita perbuat pada hari ini. Kalau pada hari ini dua orang penyair muda kita, Suharmono Arimba dan Tia Setiadi, telah menulis dan meluncurkan buku puisinya, OBITUARI RINDU dan TANGAN YANG LAIN, ini merupakan wujud nyata dari perbuatannya, yakni perbuatan dalam berpikir dan sekaligus mempertanyakan segi-segi kemanusiaan dan kehidupan.
Dengan berpikir dan mempertanyakan segi-segi kemanusiaan dan kehidupan, berarti bahwa kedua penyair ini telah terlibat dan mencoba menceburkan diri ke dalam obsesi besarnya, yang tentu saja berkait dengan kemanusiaan dan kehidupan kita. Dengan terlibat ke dalam suatu obsesi, berarti kedua penyair ini juga senantiasa melakukan dialog dengan diri sendiri, melakukan dialog dengan segala sesuatu yang terpancar dari dirinya, untuk mencari jawaban atas sekian banyak pertanyaan yang menderanya.
Kita sepakat dengan Budi Darma bahwa bentuk komunikasi atau dialog dengan diri sendiri itu pada hakikatnya hanyalah merupakan suatu proses dari sebuah perjalanan panjang dalam usahanya untuk mengejar cakrawala. Jawaban demi jawaban yang telah diperoleh, yang antara lain terwujud dalam bentuk puisi, termasuk puisi dalam buku OBITUARI RINDU dan TANGAN YANG LAIN, dengan demikian juga hanya merupakan sebuah terminal, hanya merupakan salah satu wujud pemberhentian sementara, dan belum sampai ke puncak apalagi final.
Itu sebabnya, tidak berlebihan jika kita berharap, kedua penyair ini kelak akan terus mengejar cakrawala, akan mencapai sekian banyak terminal, dan akan melahirkan sekian banyak karya yang lebih matang. Meskipun, kita semua menyadari bahwa cakrawala yang dikejar itu diyakini tidak akan pernah berhenti berlari. Tetapi, baiklah, meskipun usahanya ini baru sampai pada terminal tertentu, bagaimana pun mereka telah menorehkan sejarah bagi dirinya sendiri sebagai sastrawan, dan karya-karya puisinya tetap menjadi semacam pernik yang menghiasi ruang-ruang kreatif kehidupan sastra Indonesia di Yogyakarta, yang secara diam-diam sebenarnya terus bergerak.
Baiklah. Sekarang saya hendak membuka catatan saya berikutnya, yakni tentang kondisi produksi buku-buku sastra di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir. Dengan lahirnya dua buku kumpulan puisi ini, tentu saja khasanah sastra Indonesia di Yogyakarta menjadi lebih hidup. Lebih-lebih, karena memang buku kumpulan puisi termasuk barang langka di tengah produksi buku-buku sastra di Yogyakarta.
Saya mencatat, bahwa dalam 5 tahun terakhir, setidaknya sejak 2006 hingga 2011, ada sekitar 93 buku karya sastra (karya mandiri) yang diterbitkan oleh penerbit Yogyakarta. Saya yakin, jumlah ini sebenarnya bisa lebih dari itu, karena tidak semua buku itu bisa tercatat dalam arsip kami. Jumlah itu pun belum termasuk buku yang diproduksi atau diterbitkan pada tahun 2012 dan 2013.
Hanya saja, dari jumlah 93 buku karya sastra itu, buku kumpulan puisi dan cerpen termasuk langka, karena dalam waktu 5 tahun ini hanya ada 16 buku kumpulan puisi dan 10 kumpulan cerpen. Sementara, yang dominan adalah novel, yakni ada 67 buah.
Yang lebih memprihatinkan lagi, di tengah maraknya buku-buku karya sastra itu, dan di tengah daerah istimewa yang memiliki lebih dari 90 penerbit anggota IKAPI dan lebih dari 400 penerbit/percetakan non-IKAPI, ternyata tidak ada satu pun buku kumpulan naskah drama. Saya tidak tahu persis, apakah kelangkaan buku drama itu disebabkan karena genre drama memang tergolong elite, ataukah memang karena ruang-ruang kreatif di bidang drama telah jauh dari para seniman dan sastrawan kita.
Mudah-mudahan saja dugaan ini keliru, sebab, boleh jadi, para sastrawan kita sebenarnya terus berkarya. Hanya mungkin, karena penerbit lebih berpikir tentang nilai ekonomi, sementara buku sastra tidak menjanjikan secara finansial, sehingga buku-buku kumpulan naskah drama pun tidak kunjung lahir.
Catatan saya yang berikutnya lagi ialah, meskipun dalam 5 tahun Yogyakarta hanya mampu melahirkan 93 buku sastra, tetapi hal ini sudah merupakan prestasi tersendiri yang cukup baik bagi kota Yogyakarta. Sebab, saya yakin, prestasi ini tidak dicapai oleh kota-kota lain di Indonesia. Selain itu, juga masih ada sekian penerbit yang tidak hanya berpikir tentang profit, tetapi sekaligus berpikir tentang idealisme. Hanya saja, memang, semua itu baru dilihat dari sisi kuantitas. Kalau dilihat dari sisi kualitas, agaknya masih perlu ada semacam peninjauan kembali bagaimana sebenarnya aspek literer diolah dan memperoleh perhatian yang lebih.
Kalau dilihat dari orientasi tematiknya, memang sebenarnya dalam konteks sastra Indonesia di Yogyakarta, ada perkembangan yang cukup signifikan. Bahkan juga menunjukkan ada variasi yang menarik. Variasi itu, misalnya, mulai dari masalah-masalah sederhana dalam kehidupan kita (cinta dan keluarga), sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan aspek kemanusiaan yang lebih serius (sosial, budaya, politik, pendidikan, gender, kemiskinan, bencana alam, dsb).
Bahkan mereka juga telah mencoba mengolah beragam aspek tersebut dengan unsur sejarah, mitos, wayang, dan lain-lain. Di samping itu, yang tampak sedikit menggembirakan adalah, belakangan semakin banyak muncul penulis-penulis muda dengan gaya dan cara yang lebih kreatif dalam menyalurkan bakat keseniannya di tengah pola budaya dan media yang kian kapitalistik.
Hanya saja, tampaknya, akibat dari semua itu, sebagian besar dari karya-karya yang lahir, umumnya masih terkungkung oleh budaya massa, masih terpengaruh oleh dunia mode, dan diproduksi dengan cara-cara kejar-tayang seperti sinetron televisi, sehingga terkesan lahir sebagai barang instan. Gagasan yang diangkat cenderung tidak mengalami pendalaman, bahkan ada yang hanya ingin bertausiah lewat sastra atau memberi nasihat. Fakta cerita dan sarana-sarana sastra yang ada juga tidak diberdayakan secara maksimal sehingga tingkat kemasukakalan rendah, aspek lifelike-nya pun terabaikan.
Tentu saja, hal ini tidak seluruhnya demikian karena di tengah semaraknya produksi buku karya sastra itu masih ada beberapa karya yang mengarah pada kanon literer. Hanya saja, fakta menunjukkan bahwa jumlah karya semacam itu sangat sedikit.
Kalau tadi saya katakan sebagian besar karya yang lahir terseret oleh budaya massa atau dunia mode, dapat saya contohkan demikian. Kita tahu bahwa novelis religius HABIBURRACHMAN telah sukses dengan novelnya AYAT-AYAT CINTA dan kemudian diikuti sejumlah novel cinta lainnya. Demikian juga dengan ANDREA HIRATA yang sukses dengan novel tetraloginya LASKAR PELANGI.
Kesuksesan HABIBURRACHMAN dan ANDREA HIRATA itulah yang kemudian menjadi mode bagi para novelis muda kita. Dari situ kemudian mengalir sejumlah novel dengan label tertentu, yang kemudian label itu pada akhirnya menjadi trade mark. Karya-karya yang terbit itu kemudian dengan gagah menggunakan label NOVEL SPIRITUAL, NOVEL RELIGIUS, NOVEL PENYEJUK HATI YANG SEDANG GUNDAH, NOVEL MOTIVASI, NOVEL INSPIRASI, dan sebagainya.
Dan label demikian secara eksplisit dicantumkan sebagai subjudul novel, dan dilengkapi pula dengan ilustrasi yang modis dan fashionable.
Kalau dicermati, di satu sisi, label judul yang sangat tendensius itu barangkali bisa menjadi kode komunikasi yang baik antara karya dengan calon-calon pembacanya. Tetapi, di sisi lain, label yang tak jarang diungkapkan dengan bahasa persuasif (seperti iklan) itu justru bisa menjadi hal yang sebaliknya jika horizon harapan pembaca tidak terpenuhi. Dan faktanya, hal yang terakhir itulah yang mendominasi novel-novel yang terbit belakangan ini. Atau, barangkali, saya tidak tahu persis, siapa tahu memang telah terjadi pergeseran estetika di kalangan pembaca sastra dewasa ini.
Kalau memang benar demikian, berarti kecenderungan seperti yang disebutkan tadi tidak bisa dianggap salah atau menyimpang.
Di samping beberapa hal tadi, belakangan juga ada booming lain dengan munculnya banyak karya yang melabeli dirinya dengan NOVEL SEJARAH. Hanya saja, hampir tidak berbeda dengan apa yang telah saya sebutkan, umumnya karya-karya itu belum bisa melepaskan diri dari berbagai telikung sehingga sebagai sebuah novel ia belum mampu membangun tuturan kreatif yang orisinal dan belum bisa melahirkan bangunan dunia alternatif yang menyegarkan. Materi sejarah seringkali hanya direkonstruksi sedemikian rupa sehingga membaca novel tak ubahnya seperti membaca buku sejarah yang sudah ada, tidak memperkaya nilai-nilai sejarah dan belum muncul usaha menyingkap kemungkinan aspek sejarah yang hilang.
Hal demikian berarti, kalau diyakini karya sastra merupakan cahaya yang diperlukan untuk menembus gelap gulita kehidupan, boleh dikatakan bahwa karya jenis itu belum menampakkan cahayanya. Namun, sekali lagi, tidak semua karya yang lahir belakangan tergolong demikian. Sebab, masih ada beberapa karya yang tetap menunjukkan kepiawaiannya dalam bertutur dan mengolah beragam dimensi kehidupan sehingga cahayanya pun mampu memercik keluar.
Demikianlah, antara lain, yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Harapan kita, mudah-mudahan, dua kumpulan puisi yang diluncurkan pada acara ini hanya menjadi semacam terminal, hanya menjadi persinggahan dan jawaban sementara, dalam usaha untuk terus mengejar cakrawala. Dan mengejar cakrawala bukanlah hal mudah, dan semua itu memerlukan nafas yang sangat panjang. Akhirnya, saya ucapkan selamat kepada penyair S. Arimba dan Tia Setiadi, juga selamat kepada semuanya.
Yogyakarta, 26 Juli 2013
Tirto Suwondo adalah Kepala Balai Bahasa Yogyakarta

Penghargaan Bahasa/Sastra dan Harapan Terhadap Pemda


Oleh Tirto Suwondo

          Perlukah penghargaan selalu diberikan kepada bahasa dan sastra (Indonesia dan Jawa) di Yogyakarta? Bila memang perlu, siapa yang paling berhak memberikannya? Bagaimana dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, Perpustakaan Daerah, atau Perguruan Tinggi? Bukankah Permendagri No. 40 Tahun 2007 yang disusul UU No. 24 Tahun 2009 telah menyarankan di era otonomi ini Pemda wajib pula memelihara bahasa dan sastra di daerah masing-masing? Sederet pertanyaan ini tentu tak cuma memerlukan jawaban, tetapi juga perlu tindakan nyata. Hanya saja, sampai hari ini, keadaan masih adem-ayem, sepi-sepi saja.
          Di tengah sunyi senyap inilah Balai Bahasa Provinsi DIY tahun ini (2013) kembali hadir untuk memberikan penghargaan kepada bahasa dan sastra di Yogyakarta. Penghargaan ini rutin diberikan setahun sekali (sejak 2007) dan kini memasuki tahun ke-7. Tahun ini penghargaan bahasa akan diberikan kepada pengguna bahasa terbaik (di Radio dan Tata Naskah Dinas SMK) dan penghargaan sastra akan diberikan kepada buku sastra (puisi, cerpen, novel, drama, dan cerita anak) karya pengarang Yogya dan diterbitkan penerbit Yogya. Selain itu, tahun ini penghargaan juga akan diberikan kepada tokoh penggiat bahasa dan sastra.
          Ada beberapa alasan mengapa penghargaan bahasa dan sastra di Yogya perlu secara rutin diberikan. Pertama, memberi semangat kepada masyarakat agar tetap bersikap positif dan senantiasa menggunakan bahasa dengan baik, di samping memberi semangat kepada penulis/pengarang Yogya (penyair, cerpenis, novelis, penulis drama) agar lebih giat lagi berkarya yang tak hanya mempertimbangkan produktivitas tetapi juga kualitas. Kedua, membangun komitmen seluruh organisasi (instansi) dan seluruh penerbit di Yogya agar tetap concern memperhatikan dan menerbitkan buku-buku bahasa dan sastra karya pengarang Yogya. Ketiga, merangsang lahirnya para pengarang/penulis baru. Keempat, memberikan alternatif bacaan yang bermutu (baik) bagi masyarakat di Yogya.
          Selain alasan tersebut, secara makro pemberian penghargaan ini juga didorong oleh niat mempertahankan, menumbuhkan, dan memperkuat tradisi berbahasa dan bersastra di Yogya yang telah dibangun para pujangga melalui tradisi tulis keraton sejak awal abad XVIII. Semua itu berkait dengan upaya memupuk citra Yogya sebagai kota budaya (yang istimewa) sekaligus sebagai pusat budaya (sastra) yang diharapkan kelak melahirkan produk budaya bernilai tinggi yang mampu membangun peradaban yang lebih mengedepankan aspek mental-spiritual dan humanis-religius.
          Meski belum mengalami peningkatan drastis, tujuan memberi semangat kepada institusi agar menggunakan bahasa yang baik dan kepada pengarang agar lebih giat lagi menulis serta tujuan membangun komitmen penerbit agar tetap menerbitkan buku-buku sastra Yogya telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Hal itu terlihat, ketika penghargaan diberikan pertama pada 2007, buku-buku (bahasa dan) sastra (terbitan 2006) yang masuk penilaian hanya beberapa judul saja, tetapi kemudian, dari tahun ke tahun jumlah itu kian bertambah. Hanya saja, memang, khususnya buku sastra, belum pernah lebih dari 25 judul per tahun. Diharapkan pada tahun ini jumlah buku yang masuk akan lebih banyak lagi.
          Dari karya-karya yang masuk penilaian, jumlah terbanyak ditempati oleh jenis novel. Kemudian disusul oleh cerpen dan puisi. Sementara, sejak 2007 hingga 2011, tidak ada karya (naskah) drama. Hal ini menandai jenis novel menempati posisi penting dalam konstelasi sastra Yogya, sedangkan drama tak mendapat tempat sama sekali. Tidak diketahui secara persis apakah penerbit Yogya tidak mau menerbitkan drama atau memang pengarang Yogya tidak ada yang menulis karya drama. Tetapi, satu hal yang menggembirakan ialah dari tahun ke tahun selalu muncul pengarang baru.
          Namun, satu hal yang sampai hari ini belum mendapat perhatian ialah tujuan untuk memberikan alternatif bacaan (bahasa dan) sastra yang bermutu bagi siswa (SLTP/SLTA). Hal ini terlihat dari tidak adanya reaksi dari pihak-pihak terkait; katakanlah Pemerintah Daerah c.q. Dinas Pendidikan atau Perpustakaan Daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Padahal, harapan besar dari penyelenggaraan penghargaan bahasa dan sastra ini ialah buku-buku yang terpilih (terbaik) kemudian dijadikan buku bacaan “wajib” bagi siswa di sekolah.
          Mengapa buku itu penting untuk bacaan siswa di Yogya? Tak lain karena buku itu ditulis oleh pengarang Yogya yang tentu dengan semangat ke-Yogya-annya. Melalui buku bacaan sastra Yogya itu setidaknya siswa akan mendapat gambaran tentang berbagai hal yang berkait dengan budaya dan nilai-nilai lokalitas-spiritualitas (Yogya). Ambillah satu contoh, misalnya novel Rumah Cinta karya Mustofa W Hasjim (penerima penghargaan 2009).
          Buku (novel) itu ditulis oleh pengarang asli Yogya (Kotagede) dan berbicara tentang aspek-aspek spiritual di balik peristiwa gempa bumi yang melanda Yogya pada 27 Mei 2006. Bahkan novel itu tidak sekadar berisi rekaman dokumentasi fakta-fakta yang terjadi pada saat gempa, tetapi juga mengurai kegetiran hidup yang dirasakan oleh sebagian masyarakat yang menjadi korban gempa. Dan yang lebih penting lagi, novel ini mencoba memberikan alternatif solusi, menawarkan hal-hal yang lebih dalam di balik peristiwa dan fakta yang terjadi, dan menyarankan betapa pentingnya memperhatikan nilai-nilai dan makna kemanusiaan.
          Nah, bukankah buku (novel) semacam itu penting untuk bacaan siswa? Paling tidak, setelah membaca (mengapresiasi) novel itu, siswa akan lebih memahami arti hidup ini dan dapat memetik pelajaran yang menyadarkan nurani dan rasa kemanusiaannya: betapa hidup ini pahit dan karenanya harus diperjuangkan dengan penuh keimanan. Walau agak berbeda, pelajaran yang sama juga dapat dipetik dari novel Mahabbah Rindu (penerima penghargaan 2008) karya Abidah El Khalieqy. Seperti halnya novel Rumah Cinta yang berpretensi sebagai Pembangkit Semangat, novel Mahabbah Rindu juga berpretensi sebagai “Pencarian Kebenaran Iman.” Hal serupa juga tampak pada buku kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (penerima penghargaan 2010) karya Agus Noor dan novel Sang Nyai (penerima penghargaan 2012) karya Budi Sardjono.
          Untuk itulah, tidak salah jika buku-buku “penerima penghargaan” itu pantas menjadi bacaan penting bagi siswa (SLTP/SLTA) di Yogya. Maka, tidak salah pula jika kegiatan penghargaan sastra ini ditindaklanjuti oleh Pemda dengan cara disertakannya karya pemenang itu sebagai salah satu buku terpilih ketika ada (proyek) pengadaan (penerbitan) buku untuk sekolah. Tindak lanjut ini penting sebagai bukti keseriusan Pemda (bidang pendidikan) dalam mewujudkan generasi yang berkarakter dan bermartabat. Bukankah sampai hari ini kita tetap yakin bahwa sastra merupakan salah satu dari tiga jalan “pencarian kebenaran” selain filsafat dan agama? ***

Sumber: Bernas Jogja, 31 Juli 2013.